Medan - Bangsa Indonesia sempat dikenal sebagai bangsa yang berkarakter kuat, sopan, santun, ramah dan suka bergotong royong. Karakter ini begitu lekat pada masyarakat Indonesia sampai dunia mengakuinya. "Namun bagaimanapun bagusnya sistem pendidikan dan hukum yang berlaku di negeri ini, bila orang-orang yang melaksanakan hukum dan sistem itu tidak memiliki karakter terhadap hal dimaksud, adalah nonsense alias nol besar," ujar pengamat tata pemerintahan dari Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN Sumut), Dr H Azhar Sitompul, menyikapi karakter generasi bangsa Indonesia di era modern saat ini, kemarin. Dia mencontohkan, mengacu pada pola pembentukan masyarakat madani era Rasulullah SAW, di mana kala itu diangkat sebagai Rasul di Mekkah, yang pertama kali ia bentuk adalah karakter masyarakat Mekkah yang notabene kaum Jahiliyah. Namun faktanya, apa yang dilakukan Rasulullah berbuah manis. Kaum jahiliyah itu berubah dengan memiliki peradaban. "Artinya apa yang Muhammad lakukan dalam konteks keagamaan menjadikan kaum jahiliyah menjadi beriman. Sedangkan pada konteks kenegaraan, beriman itu adalah berkarakter. Buktinya ketika datang perintah Allah SWT untuk melakukan salat, zakat, puasa dan haji, mereka terima dan kerjakan. Kenapa diterima? Karena mereka sudah punya karakter untuk itu," jelas Azhar. Jadi menurutnya, Indonesia sekarang ini terlalu sibuk memikirkan undang-undang sampai 40 meter tingginya keatas. Begitu juga dengan berapa banyak pasal yang disahkan dan disusun. Namun ironinya, bangsa ini justru tidak mempersiapkan orang-orang untuk melaksanakan hukum tersebut sesuai karakter yang dimiliki setiap personalnya. "Makanya yang saya maksud pendidikan karakter bangsa ya seperti itu. Artinya mahasiswa sebagai kaum intelektual penerus bangsa ke depan, sedini mungkin harus memiliki karakter kuat dibidangnya masing-masing. Apalagi mereka juga yang nanti melaksanakan undang-undang dan sistem di negara ini. Jadi ini yang saya pikir poin paling esensi," terangnya. Dia mengatakan, secara kemanusiawian, karakter menjadi dasar yang paling utama untuk seseorang melakukan apapun. Jadi siapapun orangnya menurut Azhar, kalau tidak punya karakter maka tidak akan bisa membangun Ibu Pertiwi. "Artinya kalau dikaitkan dalam konteks keagamaan, semuanya diawali dengan niat," tuturnya. Alhasil kekacauan sistem di segala lini tersebut membuat kalangan mahasiswa menjadi terkontaminasi. Kata Azhar, antara apa yang diajarkan dosen di kelas dengan yang terjadi di lapangan, nyatanya sangat berbeda jauh. Sehingga mahasiswa bimbang menyampaikan teori-teori yang didapat dari para dosen lantaran melihat kondisi kekinian yang ada dan akhirnya mereka melakukan gejolak-gejolak perasaan. "Jadi oleh karena itu pendidikan karakter yang dimaksud adalah akhlak. Bagi seluruh komponen bangsa ini, pakailah jati diri kebangsaan supaya kita bisa memandang bangsa ini dari satu kacamata yaitu kacamata kebangsan Indonesia. Punya wawasan yang sama. Tidak terkontaminasi dengan kotak golongan, suku dan lain-lain. Kemudian karena kita orang beragama, bagunlah kepribadian bangsa dengan karakter keagamaan," papar dosen di Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam UIN Sumut ini. "Kemudian paling penting orangtua dapat menjadi panutan. Karena anak selalu bercermin kepada orangtuanya. Kita harapkan orang yang baru dilantik dan dilantak untuk menjadi pemimpin di negeri ini supaya melupakan utang-utang mereka kepada pihak yang mendanai. Bayarlah dulu janji mereka kepada rakyat," pungkas Azhar. Jemy
Mahasiswa Harus Punya Karakter Kuat Terhadap Kebangsaan
Written By Unknown on Senin, 19 Januari 2015 | 21.22
Label:
Medan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar