Medan - Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin menilai pertumbuhan ekonomi didominasi oleh konsumsi rumah tangga masyarakat yang banyak disokong oleh membaiknya daya beli masyarakat pasca penurunan harga BBM.
"Saya melihat potensinya masih dari konsumsi yang paling besar. Inflasi yang relatif terkendali juga menjadi penilaian tersendiri terhadap optimisme kontribusi konsumsi terhadap PDRB," katanya, Kamis (12/2/2015).
Demikian halnya dari sisi investasi, menurutnya ada peningkatan investasi di Sumut di tahun ini. Ada sejumlah program pemerintah terkait dengan pembangunan infrastruktur, selain itu potensi inevstasi swasta juga akan mengalami kenaikan seiring dengan telah berlalunya masa ketidak pastian yang mendominasi tahun 2014 silam.
Akan tetapi, bila mengacu kepada kinerja ekspor, Benjamin menilai kontribusi ekspor diperkirakan stagnan. Kalaupun ada kenaikan tidak begitu banyak. Peluang penurunan justru masih terlihat. Harga komoditas yang menjadi basis unggulan ekspor Sumut diperkirakan masih dibayang-bayangi tekanan.
"Salah satunya dari harga minyak mentah dunia. Penurunan harga minyak mentah akan membuat daya saing CPO khususnya untuk bahan bakar menjadi berkurang. Produksi olahan karet juga bisa tergantikan dengan penurunan harga minyak mentah dunia. Ditambah lagi, sejumlah negara tujuan ekspor Sumut yang masih dibayangi perlambatan sangat potensial menekan harga komoditas di sisi lain," katanya.
Walaupun masih ada harapan dari program biodiesel pemerintah. Dimana pemerintah akan menetapkan subsidi untuk biodiesel. Ini merupakan langkah positif yang bisa menggantikan penurunan kinerja ekspor. Akan tetapi pengggunaan CPO untuk biodiesel akan lebih banyak dikonsumsi oleh perekonomian domestik, bukan ekspor.
"Secara keseluruhan saya memperkirakan perekonomian Sumut akan tumbuh tipis di tahun 2015 nanti. Kisarannya masih di 5.5%. Namun kuncinya ada di belanja pemerintah. Semakin cepat pemerintah membelanjakan anggarannya maka serapannya akan memberikan dampak yang lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi Sumut. Jika semua program infrastruktur mampu dipercepat, belanja pemerintah juga dipercepat realisasinya, bukan tidak mungkin Sumut akan mencapai pertumbuhan 5.7 persen," katanya.
Jemy
"Saya melihat potensinya masih dari konsumsi yang paling besar. Inflasi yang relatif terkendali juga menjadi penilaian tersendiri terhadap optimisme kontribusi konsumsi terhadap PDRB," katanya, Kamis (12/2/2015).
Demikian halnya dari sisi investasi, menurutnya ada peningkatan investasi di Sumut di tahun ini. Ada sejumlah program pemerintah terkait dengan pembangunan infrastruktur, selain itu potensi inevstasi swasta juga akan mengalami kenaikan seiring dengan telah berlalunya masa ketidak pastian yang mendominasi tahun 2014 silam.
Akan tetapi, bila mengacu kepada kinerja ekspor, Benjamin menilai kontribusi ekspor diperkirakan stagnan. Kalaupun ada kenaikan tidak begitu banyak. Peluang penurunan justru masih terlihat. Harga komoditas yang menjadi basis unggulan ekspor Sumut diperkirakan masih dibayang-bayangi tekanan.
"Salah satunya dari harga minyak mentah dunia. Penurunan harga minyak mentah akan membuat daya saing CPO khususnya untuk bahan bakar menjadi berkurang. Produksi olahan karet juga bisa tergantikan dengan penurunan harga minyak mentah dunia. Ditambah lagi, sejumlah negara tujuan ekspor Sumut yang masih dibayangi perlambatan sangat potensial menekan harga komoditas di sisi lain," katanya.
Walaupun masih ada harapan dari program biodiesel pemerintah. Dimana pemerintah akan menetapkan subsidi untuk biodiesel. Ini merupakan langkah positif yang bisa menggantikan penurunan kinerja ekspor. Akan tetapi pengggunaan CPO untuk biodiesel akan lebih banyak dikonsumsi oleh perekonomian domestik, bukan ekspor.
"Secara keseluruhan saya memperkirakan perekonomian Sumut akan tumbuh tipis di tahun 2015 nanti. Kisarannya masih di 5.5%. Namun kuncinya ada di belanja pemerintah. Semakin cepat pemerintah membelanjakan anggarannya maka serapannya akan memberikan dampak yang lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi Sumut. Jika semua program infrastruktur mampu dipercepat, belanja pemerintah juga dipercepat realisasinya, bukan tidak mungkin Sumut akan mencapai pertumbuhan 5.7 persen," katanya.
Jemy

Tidak ada komentar:
Posting Komentar