Medan - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang tengah mempertimbangkan untuk menurunkan suku bunga jelas merupakan kabar baik bagi sejumlah pelaku ekonomi dan tentunya memberikan ruang yang lebih besar untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Namun menurunkan suku bunga pinjaman disisi lain juga bisa memperburuk kinerja perbankan nasional khususnya dalam menghadapi persaingan. Hal ini di katakan Gunawan Benjamin, pengamat ekonomi, Senin (26/1/2015).
Gunawan mengatakan, satu sisi, ini merupakan langkah positif. Tapi disisi lain, perbankan yang bunganya harus turun mau tidak mau harus melakukan efisiensi dan menurunkan target pencapaian laba.
"Ini masalah tentunya, kasihan juga perbankan kita akan mengalami penurunan labanya. Tentunya bisa mengganggu ekspansi perbankan ke depan," katanya.
Perbankan memang menjadi jantung perekonomian. Perlu untuk dikaji selanjutnya bagaimana kesinambungan Bank bila nantinya suku bunga kredit diturunkan. "Saya menyarankan sebaiknya pemerintah lebih agresif untuk menekan sejumlah Bank BUMN agar mau menurunkan suku bunga. Karena Bank BUMN sahamnya dimiliki oleh pemerintah," katanya.
Sehingga, lanjut Gunawan, akan tercipta persaingan penyaluran bunga kredit, yang nantinya akan memaksa Bank lain juga menurunkan suku bunga. Namun bukan berarti akan semulus yang diharapkan. Menurunkan net interest margin (NIM) perbankan jelas akan membuat Bank tersebut melakukan efisiensi. Dan sayangnya efisiensi disini sangat erat kaitannya dengan proses ekspansi perusahaan.
Semakin gencar Bank melakukan ekspansi, umumnya akan mengakibatkan Bank tersebut mengalami masalah efisiensi. Dengan penyebaran perbankan yang belum menjangkau wilayah-wilayah terpencil, maka efisiensi menjadi sulit untuk dilakukan. Atau ada belanja yang cukup besar dari perbankan untuk memenuhi kebutuhan teknologi.
"walaupun menurunkan bunga akan membuat Bank menjadi lebih optimal dalam proses penciptaan pertumbuhan ekonomi, namun Bank akan sulit menghadapi masalah internal yang dihadapinya sendiri, khususnya dalam peningkatan pelayanan ke masyarakat," katanya.
Di pasar modal, memaksa Bank menurunkan NIM jelas akan membuat analis mendiskon target perolehan laba Bank tersebut yang nantinya akan sangat potensial harga saham Bank mengalami penurunan. Kebijakan membatasi deviden sebelumnya ditambah dengan kebijakan membatasi bunga kredit sangat kuat korelasinya dengan pembentukan harga saham.
Bentuk intervensi pemerintah bisa dilakukan dengan lebih mengedepankan Bank BUMN sebagai penggerak utamanya jika ingin realisasi bunga kredit diturunkan. Dengan begitu Bank yang lain akan bertarung, namun pikirkan juga DPK atau Modal Bank BUMN tersebut. Bila DPKnya tidak mampu mengimbangi penyaluran kredit maka suntikan modal dari pemerintah harus dilakukan.
"Ini memang sejalan dengan upaya pemerintah menyuntikan modal besar khususnya kepada Bank Mandiri. Pelaku usaha akan sangat senang dengan kebijakan ini. Bunga murah berarti pembiayaan kembali mekar. Saya melihat akhir-akhir ini, kebijakan pemerintah Jokowi seperti mulai melakukan intervensi terhadap masalah yang menyangkut perekonomian termasuk Perbankan," katanya.
Ini bisa jadi langkah positif, namun pikirkan resiko jangka panjangnya khususnya terkait dengan Perbankan yang masuk dalam daftar Bank yang akan diturunkan bunga kreditnya.
Jemy
Gunawan mengatakan, satu sisi, ini merupakan langkah positif. Tapi disisi lain, perbankan yang bunganya harus turun mau tidak mau harus melakukan efisiensi dan menurunkan target pencapaian laba.
"Ini masalah tentunya, kasihan juga perbankan kita akan mengalami penurunan labanya. Tentunya bisa mengganggu ekspansi perbankan ke depan," katanya.
Perbankan memang menjadi jantung perekonomian. Perlu untuk dikaji selanjutnya bagaimana kesinambungan Bank bila nantinya suku bunga kredit diturunkan. "Saya menyarankan sebaiknya pemerintah lebih agresif untuk menekan sejumlah Bank BUMN agar mau menurunkan suku bunga. Karena Bank BUMN sahamnya dimiliki oleh pemerintah," katanya.
Sehingga, lanjut Gunawan, akan tercipta persaingan penyaluran bunga kredit, yang nantinya akan memaksa Bank lain juga menurunkan suku bunga. Namun bukan berarti akan semulus yang diharapkan. Menurunkan net interest margin (NIM) perbankan jelas akan membuat Bank tersebut melakukan efisiensi. Dan sayangnya efisiensi disini sangat erat kaitannya dengan proses ekspansi perusahaan.
Semakin gencar Bank melakukan ekspansi, umumnya akan mengakibatkan Bank tersebut mengalami masalah efisiensi. Dengan penyebaran perbankan yang belum menjangkau wilayah-wilayah terpencil, maka efisiensi menjadi sulit untuk dilakukan. Atau ada belanja yang cukup besar dari perbankan untuk memenuhi kebutuhan teknologi.
"walaupun menurunkan bunga akan membuat Bank menjadi lebih optimal dalam proses penciptaan pertumbuhan ekonomi, namun Bank akan sulit menghadapi masalah internal yang dihadapinya sendiri, khususnya dalam peningkatan pelayanan ke masyarakat," katanya.
Di pasar modal, memaksa Bank menurunkan NIM jelas akan membuat analis mendiskon target perolehan laba Bank tersebut yang nantinya akan sangat potensial harga saham Bank mengalami penurunan. Kebijakan membatasi deviden sebelumnya ditambah dengan kebijakan membatasi bunga kredit sangat kuat korelasinya dengan pembentukan harga saham.
Bentuk intervensi pemerintah bisa dilakukan dengan lebih mengedepankan Bank BUMN sebagai penggerak utamanya jika ingin realisasi bunga kredit diturunkan. Dengan begitu Bank yang lain akan bertarung, namun pikirkan juga DPK atau Modal Bank BUMN tersebut. Bila DPKnya tidak mampu mengimbangi penyaluran kredit maka suntikan modal dari pemerintah harus dilakukan.
"Ini memang sejalan dengan upaya pemerintah menyuntikan modal besar khususnya kepada Bank Mandiri. Pelaku usaha akan sangat senang dengan kebijakan ini. Bunga murah berarti pembiayaan kembali mekar. Saya melihat akhir-akhir ini, kebijakan pemerintah Jokowi seperti mulai melakukan intervensi terhadap masalah yang menyangkut perekonomian termasuk Perbankan," katanya.
Ini bisa jadi langkah positif, namun pikirkan resiko jangka panjangnya khususnya terkait dengan Perbankan yang masuk dalam daftar Bank yang akan diturunkan bunga kreditnya.
Jemy


Tidak ada komentar:
Posting Komentar